Apakah Bisnis Studio Rekaman Masih Punya Masa Depan?

Maaf kalau salah sub-forum, sebagai anak baru di sini saya tidak tau sub-forum yang tepat untuk topik ini…
Menurut teman-teman, dengan semakin banyaknya peralatan recording murah di pasaran, mudahnya akses ke software bajakan, bermunculannya software-software “AI” yang serba otomatis, melimpahnya sumber ilmu pengetahuan di internet, semakin banyaknya musisi melakukan produksi musik di kamar, dan sudah terbiasanya masyarakat mendengar audio dengan kualitas “lo-fidelity”, masihkah usaha studio rekaman punya masa depan?

1 Likes

Untuk studio kecil yg saya miliki memang dampaknya menurun, apalagi dgn adanya master assistant atau auto processing di beberapa plugin, membuat mudah musisi memix-mastering di kamarnya.
Mungkin beda kasus dgn studio besar/profesional…

Sama gan. Walaupun hasil proses automatis yang diklaim mengunakan teknologi AI itu ngga sempurna,. tapi cukup untuk telinga awam masyarakat kita. Selama materi dasarnya udah bagus (lagu dan lirik), segala kekurangan di audionya ngga jadi masalah. Bahkan saya lihat di YT kalo Youtubernya cewek cakep dijamin penghasilan channelnya tinggi walaupun audionya kaya suara radio AM.
Jadi penasaran ma pendapat temen2 dari studio bermodal besar.

karna youtube bukan hanya audio tapi juga visual/video, banyak viewer yg lebih fokus ke visual :joy:
Yups bagi pemilik studio rekaman yg sederhana perlu menggali informasi dari rekan sound engineer lainnya…
Karna dari hobi audio kita perlu menghidupi juga :grin:

Kalo saya merasa sama aja kayak mas nya punya home restaurant. masalah punya ada masa depan ato ga ya tergantung dari yang punya. misalnya pengalamannya? pengalaman bisa dateng dari banyak hal kayak latihan sendiri, atau kolaborasi sama orang lain. kalo saya pribadi tidak memikirkan soal penghasilan dulu, jadi seperti saat ini saya sebagai guru musik sebagai pemasukan dan knowledge production ini saya manfaatkan utk membuat produksi sendiri (secara pribadi saya tidak terlalu tertarik menyediakan jasa dan lebih tertarik sebutnya kolaborasi) tapi kalo ada yang mau secara personal ya bisa2 aja. Jadi intinya lebih baik si jangan jadikan utama dulu, cari yang utama penghasilannya sambil mencoba peruntungan ini

Subforumnya cocok koq, lanjuttt !

Kegelisahan yang perlu di bahas juga ini…makasih udah melempar topik yang “bikin puyeng:upside_down_face:

Sebenarnya sebelum ada plugin-plugin AI pun, dan semenjak ada revolusi Musik Digital tahun 80-90-an udah kebaca bahwa akan terjadi liberalisasi produksi musik (=semua musisi bisa produksi sendiri).
Dulu… hanya studio profesional tempat orang produksi musik, sekarang semua bisa bikin Home Studio.
Jadi kalau di lihat dari sisi mereka (owner studio profesional), kita semua disini yang punya Home Studio itu adalah “virus” bagi mereka hehehe Dan sekarang kita merasa teknologi AI itu “virus” bagi kita? :thinking:

Lihat polanya?

Jadi semua ini hanya sisi pandang aja (Home Studio “virus” bagi Pro Studio owner dan teknologi AI itu “virus” bagi jasa Home Studio dst dst) dan sampai kapanpun tetap akan ada “sesuatu” yang berevolusi dan akan ada keseimbangan (Yin Yang) bahwa siapa yang bisa memberi hasil yang maksimal (dari segi skill dan biaya) yang akan bisa survive.

Jangan lupa, pasar itu tetap lebih banyak orang awam yang mencari kualitas, dan mereka tetap sampai kapanpun gak akan bisa bikin musik sendiri, mereka tetap butuh kita.

Jadi kata saya mah, gak perlu khawatir dengan ini semua tetapi jangan galau sampai terlena sehingga LUPA untuk meningkatkan skill dan hasil musik kita…karena ini yang bikin kita survive !

Oh ya tadi saya bilang maksimal dari segi skill dan biaya…soal biaya ini justru malah bukan berarti yang murah yang akan survive, malah yang tidak murah yang survive karena ada hasil yang mahal juga dari itu (teman-teman saya ada yang masih di bayar 2-3 jutaan untuk mixing satu lagu, ini contoh saja bahwa bukan harga di-murah-in pointnya)

Sekali lagi…jangan lupa untuk selalu belajar dan tingkatkan skill dan hasil musik kita :pray:

Jadi semangat aja sih !

1 Likes

Bener juga ya, saya ngga pernah kepikiran ngeliat dari sudut pandang ini, bahwa studio-studio rekaman kecil ini juga dulu pasti sempat bikin studio rekaman besar khawatir. Saya punya pekerjaan lain sih, dan Alhamdulillah cukup untuk hidup. Musikl hanya hobby dan alhamdulillah juga bisa dapat duit tambahan dari musik. Hanya saja kegelisahan ini membuat saya ragu-ragu untuk melakukan upgrade ato membeli gear baru. Takutnya udah beli mahal-mahal, ternyata pelanggan makin sepi. Soalnya dengan dengan semakin banyaknya musisi dan pelaku audio pemula yang langsung mempublikasikan karya mereka tanpa melakukan perbandingan ma standard pasar, masyarakat juga jadi semakin terbiasa dengan audio berkualitas “lo-fidelity”, jadi selama audionya terdengar (trerurtama suara penyanyinya), ngga perlu wah, masyarakat ngga keberatan denger. Dulu waktu awal-awal saya belajar audio, temen-temen yang saya mintain pendapat selalu banyak yang ngasih pendapat seperti audionya mendem, tajam, kurang nendang, dll. Sekarang saat saya melihat Youtube video yang audionya lebih buruk dari kualitas audio saya dulu, hampir ngga ada komentar macam itu di seksi komennya.

Iya betul, di youtube malah visual yang lebih penting hahaha

Btw ada cerita dari teman, bahwa ada klien dia yang upload lagu yg dia kirim hanya music guide dari vokal klien yang dari HP, bukan hasil akhir dan ternyata ama klien langsung di upload ke iTunes, Spotify dll dan masuk !

Dari situ kesimpulan saya…karena persaingan aggregator musik / publisher yang keras, akhirnya kualitas upload sudah gak di perhatikan lagi…yang penting ada lagu yang masuk :frowning:

Malah saya kepikiran mau iseng kirim lagu dengan judul dan cover art yang lengkap tapi gak ada suara apapun, apa bisa tembus wkwkwkwkw

Iya om, bahkan ada channel yang lumayan populer (ngga perlu sebut nama), kontennya cover akustik gitu. Yang punya channel si cowok yang main gitar, tapi pinternya, dia selalu pake cewek-cewek “bening” sebagai penyanyinya. Walaupun secara musikal dan teknis ngga ada yang istimewa di channelnya, tapi jumlah viewnya bikin berani lepas kerjaan formal.

Do it om. hahahaha

1 Likes